RakyatTalk, Jakarta – Israel dan Hamas akhirnya sepakat untuk melakukan gencatan senjata di Gaza yang dijadwalkan mulai Minggu ini, setelah lebih dari 15 bulan pertempuran yang menghancurkan.
Dalam kesepakatan ini, kedua belah pihak sepakat untuk melakukan pertukaran sandera dan tahanan. Tahap pertama akan menyaksikan pembebasan 33 sandera Israel yang ditahan sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Para sandera yang akan dibebaskan termasuk perempuan, anak-anak, lansia, serta warga sipil yang sakit dan terluka.
Menurut pernyataan dari Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al-Thani, gencatan senjata ini bisa membuka jalan untuk perdamaian yang lebih permanen. “Kami berharap ini adalah halaman terakhir dari perang ini,” ungkapnya. Ia juga berharap semua pihak akan berkomitmen untuk melaksanakan seluruh ketentuan perjanjian.
Selama fase gencatan senjata awal yang berlangsung 42 hari, pasukan Israel akan mundur dari Gaza, meskipun tetap berada di perbatasan untuk memfasilitasi pertukaran sandera dan tahanan. Selain sandera Israel, sejumlah tahanan Palestina juga akan dibebaskan dalam pertukaran ini, termasuk jenazah dan orang-orang yang terpaksa mengungsi.
Kesepakatan ini dipantau oleh mediator dari Qatar, AS, dan Mesir yang bekerja sama untuk memastikan pelaksanaan gencatan senjata tersebut. Mereka juga meminta agar tidak ada agresi atau operasi militer sebelum kesepakatan mulai berlaku. “Ada mekanisme yang jelas untuk menyelesaikan tahap dua dan tiga, dan rincian lebih lanjut akan diumumkan dalam beberapa hari ke depan,” tambah Sheikh Mohammed.
Harapan besar kini mengemuka, bahwa gencatan senjata ini bukan hanya akan mengakhiri kekerasan, tetapi juga membuka peluang untuk perdamaian yang lebih stabil dan langgeng di Gaza.
