Rakyattalk.com

Kejar Swasembada Pangan 2025: Pemerintah Targetkan Penambahan 2 Juta Hektare Lahan Tanam dan Sawah

RakyatTalk, Jakarta – Pemerintah Indonesia bertekad untuk mencapai swasembada pangan pada 2025 dengan berbagai langkah strategis, termasuk memperkuat kerjasama antara pemerintah pusat dan daerah. Salah satu langkah konkret dilakukan di Sulawesi Selatan (Sulsel), di mana Menteri Pekerjaan Umum (PU) RI, Dody Hanggodo, menegaskan dukungan kementeriannya untuk menambah luas tanam dan sawah minimal 2 juta hektare di daerah irigasi.(17/01)

Dody Hanggodo menjelaskan bahwa kementeriannya telah menjalin koordinasi erat dengan Kementerian Pertanian untuk menyukseskan program swasembada pangan. “Kami telah menyusun nota kesepahaman dan buku sinkronisasi untuk memastikan pencapaian target ini,” kata Dody, yang berharap program ini dapat membawa dampak besar bagi ketahanan pangan Indonesia.

Penambahan luas tanam dan sawah ini akan dilakukan dengan dua pendekatan utama: intensifikasi dan ekstensifikasi. Intensifikasi mencakup peningkatan produktivitas pertanian melalui optimasi Indeks Pertanaman (IP), pengelolaan lahan yang lebih baik (Oplah), pompanisasi, dan dukungan terhadap sarana produksi seperti benih, pupuk, pestisida, serta alat mesin pertanian (Alsintan). Selain itu, teknologi irigasi hemat air juga akan diterapkan untuk mendukung efisiensi penggunaan sumber daya.

Ekstensifikasi berfokus pada penambahan luas sawah dengan membuka lahan baru di daerah yang sudah terlayani irigasi. “Pengelolaan lahan untuk ekstensifikasi akan dilakukan dengan cara yang mirip dengan intensifikasi,” tambah Dody.

Di Sulawesi Selatan, yang memiliki 28 daerah irigasi prioritas, diperkirakan akan ada penambahan luas tanam sekitar 213.521 hektare melalui optimasi IP, Oplah, dan pompanisasi. Total luas irigasi yang ada di Sulsel mencapai 647.495 hektare. Beberapa proyek penting yang sedang dan akan dibangun atau direhabilitasi antara lain: Pembangunan saluran sekunder Daerah Irigasi Baliase Luwu Utara sepanjang 10,16 km, Pembangunan saluran primer dan sekunder Giliren Wajo sepanjang 12,04 km, Rehabilitasi saluran sekunder Bendung Saddang di Sidenreng Rappang (Sidrap) dan Rehabilitasi saluran primer Bendungan Kelara dan Karalloe di Jeneponto

Proyek-proyek ini diharapkan dapat mengairi 2.556 hektare lahan pertanian, mendukung produksi pangan yang lebih optimal di daerah tersebut.

Dody juga menekankan pentingnya penerapan teknologi irigasi padi hemat air, terutama di daerah irigasi yang rawan kekurangan air. Teknologi ini membutuhkan lebih sedikit benih dibandingkan metode konvensional, namun dapat menghasilkan hasil yang setara. “Dengan menanam 10 kg benih per hektare, kita dapat mencapai produktivitas hingga 10 ton gabah kering panen (GKP) per hektare,” jelas Dody.

Saat ini, teknologi irigasi hemat air telah diterapkan di beberapa wilayah Jawa Barat seperti Cirebon, Indramayu, dan Majalengka. Penerapan teknologi ini diharapkan dapat menjadi solusi dalam menghadapi tantangan kekurangan air yang sering melanda daerah pertanian.

Dengan langkah-langkah ini, pemerintah optimis dapat mencapai target swasembada pangan pada 2025, menciptakan ketahanan pangan yang lebih baik, serta meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia.

Leave a Comment